PROPOSAL PENELITIAN
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT DAN KEPATUHAN
PENGOBATAN DENGAN KEBERHASILAN PENGANGGULANGAN
TUBERKOLOSIS DI PUSKESMAS X
Disusun Oleh :
Mutiara Kirana (246070002)
Ima Aufya Hidayah (246070004)
Maira Astri (246070041)
Alfinatun Musdalifah (246070045)
Nurwahyuni (246070046)
Ni Ketut Novia Evari Yanti (246070072)
PROGRAM STUDI MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI IDONESIA
JAKARTA
2025BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang masih menjadi tantangan kesehatan
masyarakat dan beban penyakit global, termasuk di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh
infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis complex yang menyebar melalui udara dalam
bentuk droplet nuclei / penyakit yang ditularkan melalui udara (Isbaniah, 2021). Infeksi Laten
Tuberkulosis (ILTB) terjadi ketika tubuh merespons antigen Mycobacterium tuberculosis
dengan sistem imun yang berlangsung lama, namun tanpa gejala klinis TBC aktif. Saat ini,
tidak ada metode pemeriksaan standar untuk secara langsung mendeteksi infeksi
Mycobacterium tuberculosis pada manusia. Sebagian besar individu yang terinfeksi tidak
menunjukkan gejala TBC, namun mereka berisiko berkembang menjadi TBC aktif. (Kemenkes
RI, 2020).
Pada wilayah regional WHO Asia Tenggara (WHO South East Asia) yang terdiri dari 11
negara anggota (Bangladesh, Bhutan, Korea Utara, India, Indonesia, Maldives, Myanmar,
Nepal, Sri Lanka, Thailand, dan Timor-Leste) dan menjadi rumah bagi sekitar seperempat
populasi dunia. Beban TBC pada wilayah ini menyumbang lebih dari 45% beban insiden
tahunan TBC (pasien baru penderita TBC). Diperkirakan pada tahun 2022, di wilayah regional
ini lebih dari 4,8 juta orang menderita TBC dan lebih dari 600.000 orang meninggal dunia
(tidak termasuk kematian karena HIV+TB). Jumlah ini lebih dari separuh kematian global
akibat TB. (Global Tuberculosis Report - WHO, 2023)
Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global yang serius. Menurut Global
Tuberculosis Report 2023 yang dirilis oleh WHO, Indonesia menempati peringkat ke-2 jumlah
kasus TB terbanyak di dunia setelah India, dengan estimasi 1.060.000 kasus baru dan sekitar
134.000 kematian setiap tahunnya. Masalah ini tidak hanya menjadi beban kesehatan tetapi
juga berdampak pada sosial ekonomi masyarakat, terutama di wilayah-wilayah dengan tingkat
pendidikan dan akses kesehatan yang rendah.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan penanggulangan TB sebagai prioritas nasional
dengan target eliminasi TB pada tahun 2030. Upaya ini difokuskan melalui program DOTS
(Directly Observed Treatment, Short-course), peningkatan cakupan skrining TB, serta edukasi
masyarakat. Namun, keberhasilan program tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat
pengetahuan masyarakat dan kepatuhan dalam menjalani pengobatan, dua faktor utama yang
menentukan efektivitas penanggulangan TB.
Data Kementerian Kesehatan (2023) menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan pengobatan
TB di Indonesia secara nasional adalah sekitar 85%, masih di bawah target WHO sebesar
≥90%. Ketidakpatuhan pengobatan menjadi salah satu penyebab utama kegagalan terapi dan
berkembangnya resistensi obat. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, sekitar
1 dari 5 pasien TB tidak menyelesaikan pengobatan hingga tuntas. Hal ini kerap dipicu oleh
2kurangnya pemahaman tentang penyakit TB, efek samping obat, serta kurangnya dukungan
dan pemantauan dari tenaga kesehatan.
Di Provinsi Banten, data dari Dinas Kesehatan Banten tahun 2023 mencatat ada lebih dari
14.000 kasus TB, dengan tingkat keberhasilan pengobatan di angka 82,4%. Kabupaten Lebak
merupakan salah satu kabupaten dengan angka kasus TB tinggi di Banten. Puskesmas X yang
berada di wilayah perdesaan menghadapi tantangan tersendiri dalam penanggulangan TB.
Keterbatasan akses informasi, rendahnya tingkat pendidikan, serta persepsi masyarakat
terhadap TB yang masih sarat stigma menjadi hambatan dalam keberhasilan program
pengobatan TB.
Berdasarkan data internal Puskesmas X tahun 2024, dari 122 pasien TB aktif, hanya 71%
yang berhasil menyelesaikan pengobatan sesuai protokol. Sementara itu, lebih dari 20% pasien
mengalami drop-out atau menghentikan pengobatan sebelum waktunya. Hasil wawancara awal
terhadap beberapa petugas TB menunjukkan bahwa sebagian besar pasien tidak memahami
pentingnya melanjutkan pengobatan meskipun gejala sudah hilang. Selain itu, edukasi
kesehatan masih bersifat pasif dan belum sistematis menyasar perubahan perilaku masyarakat.
Melihat situasi ini, perlu dilakukan penelitian yang menelaah sejauh mana tingkat
pengetahuan masyarakat dan kepatuhan dalam menjalani pengobatan berperan dalam
keberhasilan penanggulangan TB di wilayah kerja Puskesmas X. Penelitian ini diharapkan
dapat memberikan gambaran berbasis data untuk intervensi promotif dan preventif yang lebih
efektif berbasis edukasi dan perubahan perilaku.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini berangkat dari adanya ketidaksesuaian antara target
keberhasilan pengobatan TB dengan kenyataan di lapangan, khususnya di Puskesmas X,
Kabupaten Lebak. Ketidakpatuhan pasien dalam menyelesaikan pengobatan dan rendahnya
pemahaman masyarakat tentang TB diduga menjadi faktor penyebab utama. Oleh karena itu,
penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut: apakah terdapat hubungan antara tingkat
pengetahuan masyarakat dan kepatuhan pengobatan dengan keberhasilan penanggulangan TB
di Puskesmas X Kabupaten Lebak?
1.3 Pertanyaan Penelitian
1. 2. Bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat tentang TB di wilayah kerja Puskesmas X
Kabupaten Lebak?
Sejauh mana tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan TB hingga tuntas
di Puskesmas X?
3. Bagaimana keberhasilan penanggulangan TB di Puskesmas X dalam dua tahun
terakhir?
34. Apakah terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan masyarakat dan keberhasilan
pengobatan TB?
5. Apakah terdapat hubungan antara kepatuhan pengobatan dengan keberhasilan
pengobatan TB?
6. Faktor edukasi atau komunikasi kesehatan seperti apa yang paling berpengaruh
terhadap kepatuhan pasien?
7. Mengapa sebagian pasien masih menghentikan pengobatan sebelum waktunya
meskipun edukasi telah diberikan?
4BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tuberkulosis (TB)
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosis dan umumnya menyerang paru-paru, meskipun dapat menyebar
ke organ lain seperti tulang, ginjal, dan otak. Penularan TB terjadi melalui droplet udara ketika
penderita batuk, bersin, atau berbicara. Indonesia termasuk negara dengan beban TB tertinggi
di dunia. Menurut WHO (2023), Indonesia menempati posisi kedua dengan kasus TB terbanyak
setelah India.
TB menjadi perhatian utama dalam sistem pelayanan kesehatan karena angka insidennya
yang tinggi, risiko penularannya yang besar, dan dampaknya yang signifikan terhadap kualitas
hidup serta produktivitas penderita. Gejala TB yang umum antara lain batuk berdahak lebih
dari dua minggu, demam, penurunan berat badan, berkeringat di malam hari, dan rasa lemah.
Upaya penanggulangan TB di Indonesia dilakukan melalui strategi DOTS (Directly Observed
Treatment, Short-course), yaitu pengobatan jangka pendek yang diawasi secara langsung oleh
petugas kesehatan. Strategi ini mencakup diagnosis dengan mikroskopi, penyediaan obat anti-
TB yang efektif dan gratis, serta pengawasan kepatuhan minum obat.
2.2 Pengetahuan Masyarakat tentang TB
Pengetahuan merupakan domain kognitif yang penting dalam menentukan perilaku
kesehatan seseorang. Pengetahuan masyarakat tentang TB meliputi pemahaman tentang
penyebab, cara penularan, gejala, pentingnya diagnosis dini, serta urgensi menyelesaikan
pengobatan sampai tuntas.
Penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan yang baik meningkatkan kemungkinan
seseorang untuk mencari pertolongan medis lebih awal dan mematuhi pengobatan yang telah
ditentukan (Dewi et al., 2023). Sebaliknya, pengetahuan yang rendah berkorelasi dengan
keterlambatan diagnosis, pengobatan tidak tuntas, dan potensi penyebaran penyakit yang lebih
luas.
Selain itu, pemahaman masyarakat terhadap TB juga berkaitan erat dengan faktor sosial
budaya, tingkat pendidikan, dan akses terhadap informasi kesehatan. Edukasi kesehatan
melalui media dan tenaga kesehatan sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan
pengetahuan masyarakat mengenai TB.
52.3 Kepatuhan Pengobatan TB
Kepatuhan terhadap pengobatan TB merupakan faktor kunci dalam kesembuhan pasien dan
pemutusan rantai penularan. WHO menyarankan pengobatan TB selama minimal 6 bulan,
namun banyak pasien yang menghentikan pengobatan lebih awal karena merasa sembuh, tidak
paham pentingnya tuntas berobat, atau karena efek samping obat.
Menurut Maifitrianti et al. (2022), kepatuhan pasien dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti pengetahuan, motivasi, dukungan keluarga, interaksi dengan petugas kesehatan, serta
kondisi ekonomi dan sosial. Ketidakpatuhan dapat menyebabkan kegagalan pengobatan,
kekambuhan, dan resistensi obat seperti MDR-TB (Multidrug-Resistant TB), yang
pengobatannya jauh lebih sulit dan mahal.
2.4 Keberhasilan Penanggulangan TB
Keberhasilan penanggulangan TB ditandai dengan meningkatnya angka kesembuhan,
menurunnya kasus baru, serta turunnya angka kematian dan resistensi obat. Menurut data
Kemenkes RI (2023), indikator keberhasilan program TB meliputi treatment success rate, case
detection rate, dan loss to follow-up rate. Untuk mencapai keberhasilan tersebut, dibutuhkan
kolaborasi lintas sektor, pendekatan berbasis komunitas, dan peran serta aktif masyarakat.
Penelitian oleh Ritonga (2015) menunjukkan bahwa keberhasilan penanggulangan TB
sangat dipengaruhi oleh tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan serta seberapa
baik pemahaman mereka tentang penyakit ini.
2.5 Kerangka Teori
Penelitian ini menggunakan kerangka teori dari:
1. Precede-Proceed Model (Green & Kreuter):
Menjelaskan bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh:
a. Faktor predisposisi: pengetahuan, sikap, nilai, keyakinan.
b. Faktor pendukung: fasilitas pelayanan kesehatan, ketersediaan obat.
c. Faktor penguat: dukungan sosial, motivasi, peran tenaga kesehatan.
2. Health Belief Model (HBM):
Model ini menjelaskan bahwa seseorang akan menjalankan perilaku kesehatan
tertentu bila mereka:
a. Menganggap diri rentan terhadap penyakit.
b. Percaya bahwa penyakit tersebut serius.
c. Percaya bahwa tindakan pencegahan akan efektif.
6d. e. Mampu mengatasi hambatan untuk bertindak.
Mendapatkan isyarat untuk bertindak (cue to action).
2.6 Kerangka Konsep
Kerangka konsep dalam penelitian ini menggambarkan hubungan antara:
1. Variabel bebas:
X1: Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang TB
X2: Kepatuhan Pengobatan TB
2. Variabel terikat:
Y: Keberhasilan Penanggulangan TB
Skema:
[ Pengetahuan Masyarakat ] ---------↘
→ [ Keberhasilan Penanggulangan TB ]
[ Kepatuhan Pengobatan ] ----------↗
2.7 Hipotesis Penelitian
Hipotesis Umum:
Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan masyarakat dan kepatuhan
pengobatan dengan keberhasilan penanggulangan TB di Kabupaten Lebak.
Hipotesis Khusus:
1. Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan masyarakat dengan keberhasilan
penanggulangan TB.
2. Terdapat hubungan antara kepatuhan pengobatan dengan keberhasilan
penanggulangan TB.
7BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Penelitian yang dilakukan yaitu penelitian dengan metode observasi analitik dengan
menggunakan pendekatan cross sectional.
3.2 Populasi Sampel
a. Populasi
Seluruh pasien penderita TB yang menjalani di Puskesmas Kolelet
b. Sampel
Pasien yang telah menjalani pengobatan TB minimal satu bulan yang memenuhi kriteri
inklusi dan eksklusi
3.3 Sampel Penelitian
a. Kriteria inklusi
▪ Penderita TB usia ≥ 18 tahun
▪ Menjalani pengobatan di puskesmas kolelet
b. Kriteria eksklusi
▪ Pendeirta TB dengan gangguan komunikasi yang signifikan
3.4 Teknik Sampling Penelitian
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Dalam penelitian ini
pengambilan sampel dilakukan dengan Purposive Sampling.
3.5 Tempat Dan Waktu
Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Aguatus sampai Oktober tahun 2025 di Puskesmas
Kolelet Kabupaten Lebak.
3.6 Variable Penelitian
a. Variabel Bebas (Independent)
Variabel bebas pada penelitian ini adalah tingkat pengetahuan dan kepatuhan
pengobatan.
b. Variable Terikat (Dependent)
Variabel terikat pada penelitian ini adalah Keberhasilan penanggulanagan tuberkulosis
di Puskesmas Kolelet Kabupaten Lebak.
83.7 Desain Operasional
Variabel Definisi
Operasional
Tingkat
Pengetahuan
Masyarakat
tentang TB
Pengetahuan
individu
mengenai
penyebab,
penularan,
gejala,
pencegahan, dan
pengobatan TB
Kepatuhan
Pengobatan TB
Tingkat
keteraturan
individu dalam
menjalani
pengobatan TB
sesuai petunjuk
tenaga kesehatan
Keberhasilan
Penanggulangan
TB
Hasil akhir dari
program
pengobatan TB
yang dijalani
oleh pasien
Indikator - Mengetahui
penyebab TB
- Mengetahui
cara penularan
- Mengetahui
gejala TB
- Mengetahui
pentingnya
pengobatan
tuntas
- Sumber
informasi tentang
TB
- Keteraturan
minum obat
- Keteraturan
kunjungan
kontrol
- Mengatasi efek
samping
- Dukungan
keluarga
- Faktor
penghambat
kepatuhan
- Status
pengobatan
(sembuh, drop
out, gagal)
- Lama
pengobatan
- Kehadiran
kontrol selama
pengobatan
Skala
Pengukuran
Ordinal (kategori
tingkat: rendah,
sedang, tinggi)
Ordinal (skor
kepatuhan:
rendah, sedang,
tinggi)
Nominal
(sembuh/tidak
sembuh)
Instrumen
Kuesioner
tertutup & semi-
terbuka
Kuesioner
tertutup (skala
Likert)
Data rekam
medis dari
Puskesmas
93.8 Instrumen Penelitian
a. Kuesioner Tingkat Pengetahuan
• Pengetahuan tentang penularan TB
• Pengetahuan gejala TB
• Pengetahuan pengobatan TB
• Pengetahuan pentingnya kepatuhan dan pengobatan tuntas
• Sumber informasi (edukasi oleh nakes, media, dll)
Skoring: Skala Guttman atau Likert (Benar/Salah atau Setuju/Tidak Setuju)
b. Kuesioner Kepatuhan Pengobatan
• Kepatuhan minum obat secara teratur
• Kepatuhan kontrol ke fasyankes
• Sikap terhadap efek samping
• Faktor penghambat dan pendukung kepatuhan
• Dukungan keluarga atau kader
Skoring: Skala Likert: Selalu – Sering – Kadang – Tidak Pernah
c. Data Keberhasilan Pengobatan (dari rekam medis)
• Status akhir pengobatan (sembuh, gagal, putus obat)
• Durasi dan keteraturan pengobatan
• Kehadiran saat kontrol
3.9 Manajemen Data
Langkah Penjelasan
Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui kuesioner (primer)
dan rekam medis dari Puskesmas/Dinas
Kesehatan (sekunder).
Editing Memeriksa kelengkapan dan konsistensi data
kuesioner yang telah diisi responden.
Coding Mengubah jawaban responden menjadi bentuk
angka (numerik) untuk memudahkan proses
analisis statistik.
Entry Data Memasukkan data ke dalam perangkat lunak
seperti SPSS atau Microsoft Excel.
10Analisis Data Dilakukan analisis univariat (distribusi
frekuensi), bivariat (uji chi-square/Spearman),
dan jika diperlukan multivariat (regresi logistik).
3.10 Agenda Kegiatan Penelitian
Kegiatan
Waktu (Minggu) 1 Penyusunan proposal dan instrumen
penelitian
2 Uji validitas dan reliabilitas instrumen
3 Pengurusan izin dan koordinasi dengan
Puskesmas/Dinas Kesehatan
4–5 Pengambilan data lapangan
6 Pengolahan dan analisis data
7 Penyusunan laporan hasil penelitian
8 Seminar hasil dan penyusunan artikel
publikasi
3.11 Etik Penelitian
(KEPK)
▪ Persetujuan etik: Mengajukan proposal ke Komite Etik Penelitian Kesehatan
▪ Informed Consent: Responden diberi penjelasan tujuan, manfaat, dan hak
menolak ikut serta
▪ Kerahasiaan: Identitas dan data pribadi disimpan aman dan anonim
▪ Beneficence: Penelitian bertujuan untuk memberi manfaat terhadap peningkatan
program edukasi TB
▪ Non-Maleficence: Tidak ada risiko fisik/psikologis terhadap partisipan
11DAFTAR PUSTAKA
1. Dewi, M. S., Alaidarahman, N., & Oktaviona, N. (2023). Hubungan Tingkat
Pengetahuan terhadap Kepatuhan Pengobatan pada Pasien Tuberkulosis Paru di RSUD
Kab. Bekasi. Jurnal Insan Farmasi Indonesia, 8(1), 44–51.
2. Maifitrianti, E., Maulina, F., & Yunita, D. (2022). Relationship between Patients’
Knowledge and Medication Adherence of Tuberculosis at Islamic Hospital Pondok
Kopi Jakarta. Journal of Management and Pharmacy Practice, 12(2), 99–105.
3. Putra Ritonga, E. (2015). Hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Penderita
Tuberkulosis Paru dalam Program Pengobatan TB Paru di Puskesmas Glugur Darat
Medan. Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA, 1(1), 35–42.
4. World Health Organization. (2023). Global Tuberculosis Report 2023. Geneva: WHO.
5. Green, L. W., & Kreuter, M. W. (2005). Health Program Planning: An Educational and
Ecological Approach. 4th ed. New York: McGraw-Hill.
12