Rabu, 01 Oktober 2025

 PROPOSAL PENELITIAN

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT DAN KEPATUHAN

PENGOBATAN DENGAN KEBERHASILAN PENGANGGULANGAN

TUBERKOLOSIS DI PUSKESMAS X

Disusun Oleh :

Mutiara Kirana (246070002)

Ima Aufya Hidayah (246070004)

Maira Astri (246070041)

Alfinatun Musdalifah (246070045)

Nurwahyuni (246070046)

Ni Ketut Novia Evari Yanti (246070072)

PROGRAM STUDI MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS RESPATI IDONESIA

JAKARTA

2025BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang masih menjadi tantangan kesehatan

masyarakat dan beban penyakit global, termasuk di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh

infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis complex yang menyebar melalui udara dalam

bentuk droplet nuclei / penyakit yang ditularkan melalui udara (Isbaniah, 2021). Infeksi Laten

Tuberkulosis (ILTB) terjadi ketika tubuh merespons antigen Mycobacterium tuberculosis

dengan sistem imun yang berlangsung lama, namun tanpa gejala klinis TBC aktif. Saat ini,

tidak ada metode pemeriksaan standar untuk secara langsung mendeteksi infeksi

Mycobacterium tuberculosis pada manusia. Sebagian besar individu yang terinfeksi tidak

menunjukkan gejala TBC, namun mereka berisiko berkembang menjadi TBC aktif. (Kemenkes

RI, 2020).

Pada wilayah regional WHO Asia Tenggara (WHO South East Asia) yang terdiri dari 11

negara anggota (Bangladesh, Bhutan, Korea Utara, India, Indonesia, Maldives, Myanmar,

Nepal, Sri Lanka, Thailand, dan Timor-Leste) dan menjadi rumah bagi sekitar seperempat

populasi dunia. Beban TBC pada wilayah ini menyumbang lebih dari 45% beban insiden

tahunan TBC (pasien baru penderita TBC). Diperkirakan pada tahun 2022, di wilayah regional

ini lebih dari 4,8 juta orang menderita TBC dan lebih dari 600.000 orang meninggal dunia

(tidak termasuk kematian karena HIV+TB). Jumlah ini lebih dari separuh kematian global

akibat TB. (Global Tuberculosis Report - WHO, 2023)

Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global yang serius. Menurut Global

Tuberculosis Report 2023 yang dirilis oleh WHO, Indonesia menempati peringkat ke-2 jumlah

kasus TB terbanyak di dunia setelah India, dengan estimasi 1.060.000 kasus baru dan sekitar

134.000 kematian setiap tahunnya. Masalah ini tidak hanya menjadi beban kesehatan tetapi

juga berdampak pada sosial ekonomi masyarakat, terutama di wilayah-wilayah dengan tingkat

pendidikan dan akses kesehatan yang rendah.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan penanggulangan TB sebagai prioritas nasional

dengan target eliminasi TB pada tahun 2030. Upaya ini difokuskan melalui program DOTS

(Directly Observed Treatment, Short-course), peningkatan cakupan skrining TB, serta edukasi

masyarakat. Namun, keberhasilan program tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat

pengetahuan masyarakat dan kepatuhan dalam menjalani pengobatan, dua faktor utama yang

menentukan efektivitas penanggulangan TB.

Data Kementerian Kesehatan (2023) menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan pengobatan

TB di Indonesia secara nasional adalah sekitar 85%, masih di bawah target WHO sebesar

≥90%. Ketidakpatuhan pengobatan menjadi salah satu penyebab utama kegagalan terapi dan

berkembangnya resistensi obat. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, sekitar

1 dari 5 pasien TB tidak menyelesaikan pengobatan hingga tuntas. Hal ini kerap dipicu oleh

2kurangnya pemahaman tentang penyakit TB, efek samping obat, serta kurangnya dukungan

dan pemantauan dari tenaga kesehatan.

Di Provinsi Banten, data dari Dinas Kesehatan Banten tahun 2023 mencatat ada lebih dari

14.000 kasus TB, dengan tingkat keberhasilan pengobatan di angka 82,4%. Kabupaten Lebak

merupakan salah satu kabupaten dengan angka kasus TB tinggi di Banten. Puskesmas X yang

berada di wilayah perdesaan menghadapi tantangan tersendiri dalam penanggulangan TB.

Keterbatasan akses informasi, rendahnya tingkat pendidikan, serta persepsi masyarakat

terhadap TB yang masih sarat stigma menjadi hambatan dalam keberhasilan program

pengobatan TB.

Berdasarkan data internal Puskesmas X tahun 2024, dari 122 pasien TB aktif, hanya 71%

yang berhasil menyelesaikan pengobatan sesuai protokol. Sementara itu, lebih dari 20% pasien

mengalami drop-out atau menghentikan pengobatan sebelum waktunya. Hasil wawancara awal

terhadap beberapa petugas TB menunjukkan bahwa sebagian besar pasien tidak memahami

pentingnya melanjutkan pengobatan meskipun gejala sudah hilang. Selain itu, edukasi

kesehatan masih bersifat pasif dan belum sistematis menyasar perubahan perilaku masyarakat.

Melihat situasi ini, perlu dilakukan penelitian yang menelaah sejauh mana tingkat

pengetahuan masyarakat dan kepatuhan dalam menjalani pengobatan berperan dalam

keberhasilan penanggulangan TB di wilayah kerja Puskesmas X. Penelitian ini diharapkan

dapat memberikan gambaran berbasis data untuk intervensi promotif dan preventif yang lebih

efektif berbasis edukasi dan perubahan perilaku.

1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini berangkat dari adanya ketidaksesuaian antara target

keberhasilan pengobatan TB dengan kenyataan di lapangan, khususnya di Puskesmas X,

Kabupaten Lebak. Ketidakpatuhan pasien dalam menyelesaikan pengobatan dan rendahnya

pemahaman masyarakat tentang TB diduga menjadi faktor penyebab utama. Oleh karena itu,

penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut: apakah terdapat hubungan antara tingkat

pengetahuan masyarakat dan kepatuhan pengobatan dengan keberhasilan penanggulangan TB

di Puskesmas X Kabupaten Lebak?

1.3 Pertanyaan Penelitian

1. 2. Bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat tentang TB di wilayah kerja Puskesmas X

Kabupaten Lebak?

Sejauh mana tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan TB hingga tuntas

di Puskesmas X?

3. Bagaimana keberhasilan penanggulangan TB di Puskesmas X dalam dua tahun

terakhir?

34. Apakah terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan masyarakat dan keberhasilan

pengobatan TB?

5. Apakah terdapat hubungan antara kepatuhan pengobatan dengan keberhasilan

pengobatan TB?

6. Faktor edukasi atau komunikasi kesehatan seperti apa yang paling berpengaruh

terhadap kepatuhan pasien?

7. Mengapa sebagian pasien masih menghentikan pengobatan sebelum waktunya

meskipun edukasi telah diberikan?

4BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tuberkulosis (TB)

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri

Mycobacterium tuberculosis dan umumnya menyerang paru-paru, meskipun dapat menyebar

ke organ lain seperti tulang, ginjal, dan otak. Penularan TB terjadi melalui droplet udara ketika

penderita batuk, bersin, atau berbicara. Indonesia termasuk negara dengan beban TB tertinggi

di dunia. Menurut WHO (2023), Indonesia menempati posisi kedua dengan kasus TB terbanyak

setelah India.

TB menjadi perhatian utama dalam sistem pelayanan kesehatan karena angka insidennya

yang tinggi, risiko penularannya yang besar, dan dampaknya yang signifikan terhadap kualitas

hidup serta produktivitas penderita. Gejala TB yang umum antara lain batuk berdahak lebih

dari dua minggu, demam, penurunan berat badan, berkeringat di malam hari, dan rasa lemah.

Upaya penanggulangan TB di Indonesia dilakukan melalui strategi DOTS (Directly Observed

Treatment, Short-course), yaitu pengobatan jangka pendek yang diawasi secara langsung oleh

petugas kesehatan. Strategi ini mencakup diagnosis dengan mikroskopi, penyediaan obat anti-

TB yang efektif dan gratis, serta pengawasan kepatuhan minum obat.

2.2 Pengetahuan Masyarakat tentang TB

Pengetahuan merupakan domain kognitif yang penting dalam menentukan perilaku

kesehatan seseorang. Pengetahuan masyarakat tentang TB meliputi pemahaman tentang

penyebab, cara penularan, gejala, pentingnya diagnosis dini, serta urgensi menyelesaikan

pengobatan sampai tuntas.

Penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan yang baik meningkatkan kemungkinan

seseorang untuk mencari pertolongan medis lebih awal dan mematuhi pengobatan yang telah

ditentukan (Dewi et al., 2023). Sebaliknya, pengetahuan yang rendah berkorelasi dengan

keterlambatan diagnosis, pengobatan tidak tuntas, dan potensi penyebaran penyakit yang lebih

luas.

Selain itu, pemahaman masyarakat terhadap TB juga berkaitan erat dengan faktor sosial

budaya, tingkat pendidikan, dan akses terhadap informasi kesehatan. Edukasi kesehatan

melalui media dan tenaga kesehatan sangat penting untuk meningkatkan kesadaran dan

pengetahuan masyarakat mengenai TB.

52.3 Kepatuhan Pengobatan TB

Kepatuhan terhadap pengobatan TB merupakan faktor kunci dalam kesembuhan pasien dan

pemutusan rantai penularan. WHO menyarankan pengobatan TB selama minimal 6 bulan,

namun banyak pasien yang menghentikan pengobatan lebih awal karena merasa sembuh, tidak

paham pentingnya tuntas berobat, atau karena efek samping obat.

Menurut Maifitrianti et al. (2022), kepatuhan pasien dipengaruhi oleh beberapa faktor

seperti pengetahuan, motivasi, dukungan keluarga, interaksi dengan petugas kesehatan, serta

kondisi ekonomi dan sosial. Ketidakpatuhan dapat menyebabkan kegagalan pengobatan,

kekambuhan, dan resistensi obat seperti MDR-TB (Multidrug-Resistant TB), yang

pengobatannya jauh lebih sulit dan mahal.

2.4 Keberhasilan Penanggulangan TB

Keberhasilan penanggulangan TB ditandai dengan meningkatnya angka kesembuhan,

menurunnya kasus baru, serta turunnya angka kematian dan resistensi obat. Menurut data

Kemenkes RI (2023), indikator keberhasilan program TB meliputi treatment success rate, case

detection rate, dan loss to follow-up rate. Untuk mencapai keberhasilan tersebut, dibutuhkan

kolaborasi lintas sektor, pendekatan berbasis komunitas, dan peran serta aktif masyarakat.

Penelitian oleh Ritonga (2015) menunjukkan bahwa keberhasilan penanggulangan TB

sangat dipengaruhi oleh tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan serta seberapa

baik pemahaman mereka tentang penyakit ini.

2.5 Kerangka Teori

Penelitian ini menggunakan kerangka teori dari:

1. Precede-Proceed Model (Green & Kreuter):

Menjelaskan bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh:

a. Faktor predisposisi: pengetahuan, sikap, nilai, keyakinan.

b. Faktor pendukung: fasilitas pelayanan kesehatan, ketersediaan obat.

c. Faktor penguat: dukungan sosial, motivasi, peran tenaga kesehatan.

2. Health Belief Model (HBM):

Model ini menjelaskan bahwa seseorang akan menjalankan perilaku kesehatan

tertentu bila mereka:

a. Menganggap diri rentan terhadap penyakit.

b. Percaya bahwa penyakit tersebut serius.

c. Percaya bahwa tindakan pencegahan akan efektif.

6d. e. Mampu mengatasi hambatan untuk bertindak.

Mendapatkan isyarat untuk bertindak (cue to action).

2.6 Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam penelitian ini menggambarkan hubungan antara:

1. Variabel bebas:

X1: Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang TB

X2: Kepatuhan Pengobatan TB

2. Variabel terikat:

Y: Keberhasilan Penanggulangan TB

Skema:

[ Pengetahuan Masyarakat ] ---------

→ [ Keberhasilan Penanggulangan TB ]

[ Kepatuhan Pengobatan ] ----------

2.7 Hipotesis Penelitian

Hipotesis Umum:

Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan masyarakat dan kepatuhan

pengobatan dengan keberhasilan penanggulangan TB di Kabupaten Lebak.

Hipotesis Khusus:

1. Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan masyarakat dengan keberhasilan

penanggulangan TB.

2. Terdapat hubungan antara kepatuhan pengobatan dengan keberhasilan

penanggulangan TB.

7BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian yang dilakukan yaitu penelitian dengan metode observasi analitik dengan

menggunakan pendekatan cross sectional.

3.2 Populasi Sampel

a. Populasi

Seluruh pasien penderita TB yang menjalani di Puskesmas Kolelet

b. Sampel

Pasien yang telah menjalani pengobatan TB minimal satu bulan yang memenuhi kriteri

inklusi dan eksklusi

3.3 Sampel Penelitian

a. Kriteria inklusi

Penderita TB usia ≥ 18 tahun

Menjalani pengobatan di puskesmas kolelet

b. Kriteria eksklusi

Pendeirta TB dengan gangguan komunikasi yang signifikan

3.4 Teknik Sampling Penelitian

Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Dalam penelitian ini

pengambilan sampel dilakukan dengan Purposive Sampling.

3.5 Tempat Dan Waktu

Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Aguatus sampai Oktober tahun 2025 di Puskesmas

Kolelet Kabupaten Lebak.

3.6 Variable Penelitian

a. Variabel Bebas (Independent)

Variabel bebas pada penelitian ini adalah tingkat pengetahuan dan kepatuhan

pengobatan.

b. Variable Terikat (Dependent)

Variabel terikat pada penelitian ini adalah Keberhasilan penanggulanagan tuberkulosis

di Puskesmas Kolelet Kabupaten Lebak.

83.7 Desain Operasional

Variabel Definisi

Operasional

Tingkat

Pengetahuan

Masyarakat

tentang TB

Pengetahuan

individu

mengenai

penyebab,

penularan,

gejala,

pencegahan, dan

pengobatan TB

Kepatuhan

Pengobatan TB

Tingkat

keteraturan

individu dalam

menjalani

pengobatan TB

sesuai petunjuk

tenaga kesehatan

Keberhasilan

Penanggulangan

TB

Hasil akhir dari

program

pengobatan TB

yang dijalani

oleh pasien

Indikator - Mengetahui

penyebab TB

- Mengetahui

cara penularan

- Mengetahui

gejala TB

- Mengetahui

pentingnya

pengobatan

tuntas

- Sumber

informasi tentang

TB

- Keteraturan

minum obat

- Keteraturan

kunjungan

kontrol

- Mengatasi efek

samping

- Dukungan

keluarga

- Faktor

penghambat

kepatuhan

- Status

pengobatan

(sembuh, drop

out, gagal)

- Lama

pengobatan

- Kehadiran

kontrol selama

pengobatan

Skala

Pengukuran

Ordinal (kategori

tingkat: rendah,

sedang, tinggi)

Ordinal (skor

kepatuhan:

rendah, sedang,

tinggi)

Nominal

(sembuh/tidak

sembuh)

Instrumen

Kuesioner

tertutup & semi-

terbuka

Kuesioner

tertutup (skala

Likert)

Data rekam

medis dari

Puskesmas

93.8 Instrumen Penelitian

a. Kuesioner Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan tentang penularan TB

Pengetahuan gejala TB

Pengetahuan pengobatan TB

Pengetahuan pentingnya kepatuhan dan pengobatan tuntas

Sumber informasi (edukasi oleh nakes, media, dll)

Skoring: Skala Guttman atau Likert (Benar/Salah atau Setuju/Tidak Setuju)

b. Kuesioner Kepatuhan Pengobatan

Kepatuhan minum obat secara teratur

Kepatuhan kontrol ke fasyankes

Sikap terhadap efek samping

Faktor penghambat dan pendukung kepatuhan

Dukungan keluarga atau kader

Skoring: Skala Likert: Selalu – Sering – Kadang – Tidak Pernah

c. Data Keberhasilan Pengobatan (dari rekam medis)

Status akhir pengobatan (sembuh, gagal, putus obat)

Durasi dan keteraturan pengobatan

Kehadiran saat kontrol

3.9 Manajemen Data

Langkah Penjelasan

Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui kuesioner (primer)

dan rekam medis dari Puskesmas/Dinas

Kesehatan (sekunder).

Editing Memeriksa kelengkapan dan konsistensi data

kuesioner yang telah diisi responden.

Coding Mengubah jawaban responden menjadi bentuk

angka (numerik) untuk memudahkan proses

analisis statistik.

Entry Data Memasukkan data ke dalam perangkat lunak

seperti SPSS atau Microsoft Excel.

10Analisis Data Dilakukan analisis univariat (distribusi

frekuensi), bivariat (uji chi-square/Spearman),

dan jika diperlukan multivariat (regresi logistik).

3.10 Agenda Kegiatan Penelitian

Kegiatan

Waktu (Minggu) 1 Penyusunan proposal dan instrumen

penelitian

2 Uji validitas dan reliabilitas instrumen

3 Pengurusan izin dan koordinasi dengan

Puskesmas/Dinas Kesehatan

4–5 Pengambilan data lapangan

6 Pengolahan dan analisis data

7 Penyusunan laporan hasil penelitian

8 Seminar hasil dan penyusunan artikel

publikasi

3.11 Etik Penelitian

(KEPK)

Persetujuan etik: Mengajukan proposal ke Komite Etik Penelitian Kesehatan

Informed Consent: Responden diberi penjelasan tujuan, manfaat, dan hak

menolak ikut serta

Kerahasiaan: Identitas dan data pribadi disimpan aman dan anonim

Beneficence: Penelitian bertujuan untuk memberi manfaat terhadap peningkatan

program edukasi TB

Non-Maleficence: Tidak ada risiko fisik/psikologis terhadap partisipan

11DAFTAR PUSTAKA

1. Dewi, M. S., Alaidarahman, N., & Oktaviona, N. (2023). Hubungan Tingkat

Pengetahuan terhadap Kepatuhan Pengobatan pada Pasien Tuberkulosis Paru di RSUD

Kab. Bekasi. Jurnal Insan Farmasi Indonesia, 8(1), 44–51.

2. Maifitrianti, E., Maulina, F., & Yunita, D. (2022). Relationship between Patients’

Knowledge and Medication Adherence of Tuberculosis at Islamic Hospital Pondok

Kopi Jakarta. Journal of Management and Pharmacy Practice, 12(2), 99–105.

3. Putra Ritonga, E. (2015). Hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Penderita

Tuberkulosis Paru dalam Program Pengobatan TB Paru di Puskesmas Glugur Darat

Medan. Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA, 1(1), 35–42.

4. World Health Organization. (2023). Global Tuberculosis Report 2023. Geneva: WHO.

5. Green, L. W., & Kreuter, M. W. (2005). Health Program Planning: An Educational and

Ecological Approach. 4th ed. New York: McGraw-Hill.

12