Rabu, 01 Oktober 2025

 Evaluasi Workshop Peningkatan Kapasitas Guru SMP dan SMA dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Berbasis Sekolah

 

 

 

 

 

 

 

Nama : Ima Aufya Hidayah

NPM : 246070004

 

 

 

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

PROGRAM MAGISTER

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS RESPATI INDONESIA

JAKARTA

2025

1.      Latar Belakang

Kesehatan reproduksi remaja merupakan isu strategis yang memengaruhi kualitas generasi muda di masa depan. Guru sebagai pendidik dan pendamping siswa memiliki peran penting dalam memberikan informasi dan bimbingan yang tepat. Namun, banyak guru yang belum memiliki kapasitas atau pemahaman yang cukup dalam menyampaikan materi kesehatan reproduksi secara komprehensif dan sensitif usia.

Remaja merupakan kelompok usia yang sedang mengalami transisi penting dari masa anak-anak menuju dewasa, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Masa ini ditandai oleh perubahan hormon yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tubuh dan munculnya dorongan seksual. Oleh karena itu, kebutuhan akan pemahaman yang benar mengenai kesehatan reproduksi menjadi sangat penting pada fase ini.

Menurut World Health Organization (WHO, 2011), banyak remaja di berbagai negara menghadapi tantangan dalam mengakses informasi dan layanan kesehatan reproduksi yang aman, akurat, dan sesuai usia. Akibat dari kurangnya informasi ini antara lain meningkatnya kasus kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV/AIDS, serta kekerasan seksual. 

Di Indonesia, BKKBN (2021) melaporkan bahwa masih terdapat kesenjangan besar antara kebutuhan informasi kesehatan reproduksi dengan kemampuan guru dan orang tua dalam menyampaikannya secara tepat dan terbuka.

Menurut Riskesdas 2018 (Kemenkes RI), prevalensi kehamilan remaja (usia 15–19 tahun) di Indonesia masih cukup tinggi, termasuk di wilayah perkotaan seperti DKI JakartaPara ilmuwan seperti Prof. Dr. Budi Wiweko, SpOG(K)(dokter dan peneliti UI-RSCM) menyoroti bahwa kehamilan remaja bukan hanya soal biologis, tetapi juga menyangkut ketidaksiapan psikologis dan sosial.

Ilmuwan kesehatan masyarakat seperti Kirby (2007) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif secara signifikan dapat menunda usia hubungan seksual pertama, mengurangi risiko kehamilan remaja, serta meningkatkan keterampilan komunikasi antarpribadi yang sehat. Namun, keberhasilan tersebut sangat dipengaruhi oleh kapasitas tenaga pendidik dalam menyampaikan materi secara ilmiah, terbuka, dan tidak menghakimi.

Sayangnya, banyak guru di sekolah masih merasa canggung atau tidak memiliki pemahaman yang cukup dalam membahas isu-isu reproduksi secara eksplisit. Hal ini menyebabkan remaja mencari informasi dari sumber yang kurang valid, seperti media sosial atau teman sebaya, yang dapat menimbulkan kesalahpahaman dan perilaku berisiko.

Untuk menjawab tantangan ini, sebuah workshop peningkatan kapasitas guru telah dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan bekerja sama dengan BKKBN dan Dinas Kesehatan. Evaluasi kegiatan ini penting dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tujuan workshop tercapai, dan bagaimana pelaksanaan serta hasilnya dapat ditingkatkan di masa mendatang.

2.      Tujuan

Evaluasi ini bertujuan untuk:

  • Menilai kesesuaian kebutuhan (konteks) pelaksanaan workshop.
  • Menilai kecukupan sumber daya dan perencanaan (input).
  • Menilai kualitas pelaksanaan workshop (proses).
  • Menilai hasil yang dicapai oleh peserta (produk).

3.      Pelaksanaan Workshop

  • Nama Kegiatan: Workshop Peningkatan Kapasitas Guru dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja
  • Penyelenggara: Dinas Pendidikan Provinsi Jakarta & BKKBN
  • Waktu: 15–17 Juni 2025
  • Tempat: Hotel 
  • Peserta: 50 Guru SMP dan SMA dari berbagai kabupaten/kota
  • Fasilitator: 5 orang (praktisi pendidikan, psikolog, dan Tenaga Kesehatan perwakilan BKKBN)

 

4.         Produk / Hasil Evaluasi (Model CIPP)

 

A.         Context (Konteks)

 

Temuan:

  • Berdasarkan survei awal, 78% guru menyatakan kurang percaya diri membahas topik kesehatan reproduksi di kelas.
  • Kurikulum pendidikan belum sepenuhnya mengintegrasikan topik ini secara eksplisit.

Analisis:

  • Kebutuhan workshop sangat relevan dan mendesak untuk menjawab tantangan pendidikan karakter dan kesehatan remaja.

Kesimpulan:

  • Workshop sesuai dengan kebutuhan dan konteks aktual di lapangan.

 

B. Input

Temuan:

·       Materi workshop telah disusun oleh tim ahli dari BKKBN.

·       Fasilitator memiliki kompetensi dan pengalaman yang relevan.

·       Sarana dan prasarana (ruangan, alat bantu visual, konsumsi) sangat mendukung.

Analisis:

  • Persiapan workshop tergolong sangat baik, dengan dukungan dana dan SDM yang cukup.

Kesimpulan:

  • Input mendukung tercapainya tujuan pelatihan secara optimal.

C. Process (Proses)

Temuan:

  • Metode pelatihan interaktif: diskusi, studi kasus, simulasi, dan refleksi.
  • Waktu pelaksanaan cukup, meskipun sebagian peserta mengusulkan waktu praktik lapangan ditambah.
  • Tingkat partisipasi peserta tinggi (85% aktif dalam diskusi).

Analisis:

  • Proses pelatihan berlangsung efektif, meskipun perlu peningkatan di aspek praktik.

Kesimpulan:

  • Proses pelaksanaan berjalan lancar, namun bisa ditingkatkan dari sisi keterlibatan peserta dalam praktik lapangan.

D. Product (Produk/Hasil)

Temuan:

  • 90% peserta menunjukkan peningkatan skor pre-post test.
  • 35 guru telah menyusun rencana tindak lanjut untuk mengintegrasikan topik ini dalam pelajaran mereka.
  • 10 sekolah telah memulai program edukasi kesehatan reproduksi pasca-workshop.

 

Analisis:

  • Workshop memberikan dampak nyata pada peningkatan pengetahuan dan rencana aksi peserta.

Kesimpulan:

  • Produk pelatihan efektif dan memberikan hasil yang berdampak pada praktik pendidikan di sekolah.

 

5.    Saran / Rekomendasi

  1. Integrasi Program ke Kurikulum Sekolah
    Dinas Pendidikan diharapkan dapat mengadvokasi agar pendidikan kesehatan reproduksi diintegrasikan secara formal dalam mata pelajaran atau program sekolah.
  2. Pendampingan Pasca Pelatihan
    Perlu disiapkan program mentoring atau klinik konsultasi daring bagi guru dalam menyampaikan materi yang sensitif ini.
  3. Pengembangan Modul dan Media Edukasi
    Modul dan media pembelajaran yang sesuai usia remaja perlu dikembangkan dan disediakan bagi guru.
  4. Replikasi Program
    Workshop serupa perlu direplikasi di wilayah lain dengan target peserta lebih luas, termasuk guru PAUD, SD, dan guru BK.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (2021). Profil Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia. Jakarta: BKKBN.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Laporan Nasional Riskesdas 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

World Health Organization (WHO). (2011). Guidelines on Preventing Early Pregnancy and Poor Reproductive Outcomes Among Adolescents in Developing Countries. Geneva: WHO.

Kirby, D. (2007). Emerging Answers 2007: Research Findings on Programs to Reduce Teen Pregnancy and Sexually Transmitted Diseases. Washington DC: The National Campaign to Prevent Teen and Unplanned Pregnancy.

Wiweko, B. (2020). “Pendidikan Kesehatan Reproduksi: Kebutuhan Mendesak Bagi Remaja Indonesia.” Jurnal Kedokteran Reproduksi, 14(2), 45–52.

Kusnadi, K. (2019). “Remaja Perkotaan dan Tantangan Akses Layanan Reproduksi.” Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 10(1), 33–40.

Rustina, Y. (2018). “Perilaku Seksual Remaja dan Implikasinya Terhadap Penularan HIV di Jakarta.” Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM UI, 6(3), 120–130.

Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. (2022). Laporan Tahunan Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2021. Jakarta: Dinkes DKI Jakarta.

PKBI. (2020). Pendidikan Seksual Komprehensif di Sekolah: Panduan Bagi Pendidik dan Orang Tua. Jakarta: Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia.

UNFPA Indonesia. (2021). Young People and Sexual and Reproductive Health in Indonesia. Jakarta: United Nations Population Fund.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar